***Satujuan Indonesia Jaya, Omat Ulah Parasea, Sing Inget Lahirna Tina Hate, Eta Oge Lamun Baroga Hate.... MERDEKA NEGERIKU DIRGAHAYU RI KE 69 Tahun***

Senin, 02 Mei 2011

SL PTT Padi Sawah



PENGERTIAN
1. Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu ataudisingkat PTT adalah pendekatan dalam upaya mengelola lahan,air, tanaman, OPT dan iklim secara terpadu/menyeluruh/holistic dan dapat diterapkan secara lumintu (berkelanjutan). PTT dapatdiilustrasikan sebagai sistem pengelolaan yang menggabungkanberbagai sub sistem pengelolaan, seperti sub sistem pengelolaanHara tanaman, Konservasi tanah dan air, Bahan organik danorganisme tanah, Tanaman (benih, varietas, bibit, populasitanaman dan jarak tanam), Pengendalian hama dan penyakit/organisme pengganggu tanaman, dan Sumberdaya manusia.

2. Benih Bermutu atau Benih Berkualitas atau Benih Bersertifikatadalah benih yang murni secara genetik sebagai pembawa potensigenetik suatu varietas, matang secara fisiologis dan memenuhipersyaratan mutu fisik berdasarkan prosedur pengujian untukmendapatkan sertifikat (sertifikasi). Dalam sertifikasi benih, makaprosedur yang harus dilalui diantaranya pemeriksaan lapangan,pemeriksaan gudang dan peralatan, pengawasan terhadap benihyang sedang diolah serta pemeriksaan laboratorium. Karakteristikyang mencerminkan mutu benih antara lain asli (genuine,authentic), mencerminkan karakteristik varietas yang diwakilinya,murni (tidak tercampur off-types), bersih dari kotoran (biji, gulma,tanaman lain, inert matter, immature seed), bernas, hidup (viable,tumbuh bila ditanam) dan sehat (tidak mengandung penyakit)dengan ketentuan persyaratan masing-masing berbeda sesuaidengan kelas benihnya.





3. Varietas adalah sekelompok tanaman dari suatu jenis atauspesies yang ditandai oleh bentuk tanaman, pertumbuhantanaman, daun, bunga, buah, biji dan eksperesi karakteristikgenotipe atau kombinasi genotipe yang dapat membedakandari jenis atau spesies yang sama oleh sekurang-kurangnya satusifat yang menentukan dan apabila diperbanyak tidak mengalamiperubahan.

4. Varietas Unggul adalah varietas yang telah dilepas olehpemerintah yang mempunyai kelebihan dalam potensi hasildan/atau sifat-sifat lainnya. Varietas unggul dapat berupa hasilpemuliaan, baik melalui cara konvensional biasanya disebutsebagai Varietas Unggul Inbrida, melalui cara inkonvensional/non-konvensional biasanya disebut sebagai Varietas UnggulHibrida maupun introduksi atau dapat pula berupa varietas local disebut sebagai Varietas Unggul Lokal seperti Pandanwangi dan Rojolele.

5. Varietas Unggul Baru pengertiannya sama dengan No.4 hanyabiasanya tergolong varietas unggul hasil pemuliaan secarakonvensional/padi inbrida dan telah dilepas oleh pemerintahselama beberapa tahun terakhir.

6. Varietas Unggul Hibrida pengertiannya sama dengan No.4hanya biasanya tergolong varietas unggul hasil pemuliaan secaranon-konvensional/padi hibrida.

7. Pengelolaan Hara Spesifik Lokasi adalah memberikan harabagi tanaman dalam jumlah yang sesuai pada waktu yang tepatguna memenuhi kebutuhan tanaman selama pertumbuhannya pada suatu lokasi atau wilayah. Bertujuan (1) Memaksimumkanpenyerapan hara oleh tanaman dari pupuk dan sumber haradalam tanah; (2) Memanfaatkan sebaik mungkin hara tersediadalam bentuk jerami, sisa tanaman lain, dan pupuk kandang;(3) Menggunakan pupuk anorganik seperlunya untuk mengatasimasalah kekurangan hara tertentu; (4) Meminimumkan resikokegagalan panen dengan menetapkan tingkat hasil yang realistisdan ekonomis serta menerapkan pemakaian pupuk secara efisiendan hara berimbang; dan (5) Memaksimumkan keuntungandengan cara menghitung semua biaya masukan (input) termasuktenaga kerja, pupuk organik, dan pupuk anorganik.

8. Pemupukan Berimbang adalah pemberian pupuk disesuaikandengan kebutuhan hara tanaman dan ketersediaan hara di dalamtanah. Pengertian pemupukan berimbang berbeda denganpemberian pupuk majemuk.


9. PUTS atau perangkat uji tanah sawah adalah alat bantumenganalisis tanah untuk mengetahui kandungan hara di dalamtanah (N, P, K dan pH tanah). Dengan menggunakan alat ini,maka status hara tanah sawah dapat ditentukan di lapangan danrekomendasi pupuk ditetapkan sesuai kebutuhan tanaman.

10. PuPs versi 1.0 adalah program pemupukan padi sawah spesifiklokasi versi 1.0 bertujuan mengetahui rekomendasi pemupukanpada suatu lokasi berdasarkan beberapa input data yangdiperlukan untuk merakit rekomendasi pemupukan padi sawah pada suatu wilayah. Program ini berjalan pada operating system windows dan dioperasikan menggunakan Microsoft Office Access.

11. Komponen Teknologi Dasar atau komponen teknologi utama adalah teknologi di dalam PTT yang memiliki pengaruh yang besar atau berkontribusi tinggi terhadap peningkatan produktivitasatau hasil panen. Agar peningkatan produktivitas terjadi secara nyata (signifikan), maka komponen teknologi yang tergolong ke dalam teknologi dasar harus diterapkan secara dengan baik dan benar.

12. Komponen Teknologi Pilihan atau komponen teknologi alternatif adalah teknologi di dalam PTT yang memiliki pengaruh atau kontribusi terhadap peningkatan produktivitas/hasil panen, walaupun pengaruhnya tidak sebesar pengaruh akibat penerapan teknologi dasar atau utama.
13. Laboratorium Lapangan (LL) adalah kawasan atau area yang berada di dalam wilayah hamparan SL-PTT, berfungsi sebagai lokasi/tempat percontohan teknologi rekomendasi, tempatbelajar, tempat praktek penerapan teknologi, tempat percobaan atau pengujian komponen teknologi yang belum diketahui atau dipahami oleh petani, tempat pengujian, dan tempat pengujian komponen teknologi hasil perbaikan petani disesuaikan dengan kondisi sosial budaya dan sosial ekonomi petani dan masyarakat setempat.

14. Wilayah Hamparan SL adalah hamparan lahan usahatani milik petanian atau yang dikuasakan kepada para petani/kelompok tani seluas 9-24 ha di sekitar lahan usahatani yang dialokasikansebagai LL pada suatu hamparan 1 unit SL-PTT sebagaimana hasilmusyawarah dan partisipasi pada saat perencanaan calon petani dan calon lokasi (CPCL) kegiatan SL-PTT. TUJUAN, MANFAAT DAN DAMPAK PTT Penerapan PTT Padi Sawah bertujuan meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani padi sawah serta melestarikan lingkungan produksi melalui pengelolaan lahan, air, tanaman, OPT dan iklim secara terpadu. Manfaat dan dampaknya membantu memecahkan masalah pelandaian produktivitas padi sawah guna meningkatkan stok beras nasional pada kondisi sumberdaya pertanian di wilayah petani sesuai dengan masalah yang akan diatasi (demand driven technology) secara berkelanjutan.

PRINSIP PTT
Penerapan PTT didasarkan pada 4 prinsip utama, yaitu:
(1) Partisipatif: artinya PTT membutuhkan partisipasi berbagai pihak, baik fasilitator atau petugas (Penyuluh, POPT, PBT, Widyaiswara, Peneliti) maupun petani. Petugas mendorong partisipasi aktif petani pelaksana dalam memilih dan menentukan teknologi yang akan diterapkan pada lahan usahataninya serta mendorong agar petani dapat menguji teknologi rekomendasi tersebut sesuai dengan kondisi setempat dan kemampuan petani melalui proses pembelajaran,


(2) Integrasi atau Terpadu: artinya PTT merupakan suatu keterpaduan pengelolaan sumberdaya lahan, air, tanaman, organisme pengganggu tanaman (OPT) dan iklim secara bijak untuk menjamin keberlanjutan proses produksi,

(3) Dinamis atau Spesifi k Lokasi: artinya PTT memperhatikan kesesuaian teknologi yang dikembangkan dengan lingkungan fi sik dan lingkungan sosial ekonomi petani. Komponen teknologi di dalam PTT bukan “paket teknologi” yang bersifat tetap, kaku atau “fixed” melainkan komponen teknologi yang dikembangkan bersifat fl eksibel dan petani diberikan ruang dan kesempatan untuk memilih, menentukan, menetapkan, mencoba, menguji, mengevaluasi dan memperbaiki teknologi sesuai dengan permasalahan usahatani, kebutuhan teknologi dan karakteristik sumberdaya (lahan, air, iklim, OPT, sosial ekonomi, dan sosial budaya) setempat (spesifi k lokasi) sehingga bersifat dinamis.

(4) Interaksi atau Sinergisme: artinya PTT memanfaatkan teknologi pertanian terbaik yang dihasilkan, dimaksudkan mendapatkan efek sinergisme dari interaksi akibat penerapan berbagai komponen teknologi PTT, baik tergolong ke dalam teknologi dasar maupun tergolong ke dalam teknologi pilihan (alternatif ).

STRATEGI PTT
Strategi dalam penerapan PTT ada dua, yakni Pertama, anjuran teknologi didasarkan pada bobot sumbangan teknologi terhadap peningkatan produktivitas tanaman, baik secara parsial maupun terintegrasi dengan komponen teknologi lainnya.Kedua, teknologi disuluhkan (didiseminasikan) kepada petani secara bertahap.

SL-PTT DIAWALI DENGAN KAJIAN KEBUTUHAN DAN PELUANG (KKP)


Tujuan:
• Mengumpulkan dan menganalisis informasi masalah, kendala, dan peluang yang dihadapi petani dalam usahatani padi
• Mengembangkan peluang untuk mendukung upaya peningkatan produksi padi
• Mengidentifi kasi teknologi sesuai kebutuhan petani untuk diterapkan di suatu wilayah.

Tahapan Pelaksanaan:
1. Penentuan prioritas masalah dilakukan oleh anggota kelompok tani. Permasalahan yang dialami setiap petani dikumpulkan dan dikelompokkan. Penentuan masalah prioritas dilakukan bersama. Tiap masalah prioritas dicarikan alternatif pemecahannya oleh semua peserta KKP.
2. Analisis kebutuhan dan peluang introduksi teknologi.
3. Narasumber membantu Kelompok dalam memandu diskusi.

Manfaat KKP bagi Petani:
1. Dipahaminya sistem produksi dan pemanfaatan sumberdaya alam,
2. Diketahuinya kendala, masalah dan cara mengatasi dalam upaya meningkatkan produksi padi di suatu wilayah.
3. Teridentifikasinya cara dan langkah-langkah merakit teknologi usahatani pada sawah spesifik.

Prinsip Dasar KKP:
1. Mengaktifkan kelompok tani sebagai pelaku utama dalam melaksanakan KKP.
2. Berorientasi praktis, tidak diarahkan untuk menggali informasi di luar kemampuan petani.
3. Bersifat informal.
4. Menggunakan prinsip demokratis, yaitu mendengar suara petani secara keseluruhan hingga menjadikannya sebagaisuatu kebutuhan bersama.
5. Dipimpin oleh ketua kelompok tani atau yang ditunjuk sebagaimoderator.
6. Bukan hanya menceritakan masalah, tetapi menggali akarmasalah dan pemecahannya.
7. Sebaiknya dalam melaksanakan KKP petani menentukanwaktunya, menyesuaikan kapan pertemuan kelompok tanibisa dilakukan.

Peran Fasilitator
1. Menjelaskan kepada petani dan kelompok tani tentang pentingnya KKP dalam merakit teknologi usahatani padisawah spesifi k lokasi.
2. Memotivasi petani untuk mengidentifi kasi kendala danpeluang sumerdaya yang tersedia dalam upaya meningkatkanproduktivitas padi.
3. Memberikan kesempatan petani mengemukakan solusi atasmasalah yang mereka hadapi.
4. Fasilitator membantu mengidentifi kasi peluang untukmeningkatkan produktivitas padi.

KOMPONEN TEKNOLOGI PTT PADI SAWAH

A. Komponen Teknologi Dasar PTT
�� Selain sebagai penciri PTT, komponen teknologi dasar tersebutmudah diterapkan dan besar pengaruhnya terhadap kenaikanhasil dan pendapatan petani.
�� Dalam kondisi spesifi k lokasi, komponen teknologi pilihandapat digunakan sebagai komponen teknologi dasar.
�� Benih VUB bermutu bersama-sama dengan terobosanteknologi budidaya lainnya memberikan efek sinergisme padapeningkatan hasil padi sawah.

�� Komponen teknologi dasar adalah:
1. Varietas Unggul Baru
2. Benih bermutu dan berlabel
3. Pemupukan berdasarkan kebutuhan tanaman dan statushara tanah
4. Pengendalian OPT dengan pendekatan PHT
5. Pengaturan populasi tanaman secara optimum
6. Pemberian bahan organik melalui pengembalian jeramike dalam sawah atau pemberian kompos atau pupukkandang.

1. Varietas unggul baru (VUB)
• VUB adalah varietas yang mempunyai hasil tinggi,ketahanan terhadap biotik dan abiotik, atau sifat khusustertentu.
• Penggunaan varietas yang dianjurkan akan memberikanpeluang lebih besar untuk mencapai tingkat hasil yanglebih tinggi dengan mutu beras yang lebih baik.
• Pemilihan varietas baik inbrida maupun hibridadidasarkan kepada hasil pengkajian spesifi k lokasi(tempat, musim tertentu), pengalaman petani,ketahanan terhadap OPT, rasa nasi, permintaan pasardan mempunyai harga pasar yang lebih tinggi.
• Hindari penanaman varietas yang sama secara terusmeneruspada lokasi yang sama untuk mengurangiserangan hama dan penyakit (OPT).
• Untuk mengetahui adaptasi, kesesuaian dan preferensiatau penerimaan petani, maka dapat dilakukan demplot varietas atau display varietas pada lokasi SLPTT atau lahan BPP (Balai Penyuluhan Pertanian) atau lahan Balai Benih atau lahan percontohan milik petani/ kelompok tani/gabungan kelompok tani yang dapat diamati bersama oleh penyuluh, POPT, PBT dan petani

2. Benih bermutu dan berlabel
�� Benih bermutu adalah benih berlabel dengan tingkat kemurnian dan daya tumbuh yang tinggi. Pada umumnya benih bermutu dapat diperoleh dari benih berlabel yang sudah lulus proses sertifi kasi. Benih bermutu akan menghasilkan bibit yang sehat dengan akar yang banyak sehingga pertumbuhannya akan lebih cepat dan merata serta lebih tahan terhadap serangan hama dan penyakit.
�� Manfaat penggunaan benih bermutu diantaranya dapat mempertahankan sifat-sifat unggul termasuk daya hasil yang tinggi dari varietas, jumlah pemakaian benih persatuan luas pada PTT lebih hemat dari 20 – 25 kg/ ha menjadi 10 – 15 kg/ha, pertumbuhan pertanaman dan tingkat kemasakan dilapangan lebih merata dan seragam dengan demikian panen dapat dilakukan
sekaligus dan rendemen beras tinggi dan mutu beras seragam .
�� Karakteristik benih padi bermutu dan berlabel
�� Mutu benih padi inbrida (non-hibrida) dapat di uji dengan teknik pengapungan, caranya benih dimasukkan ke dalam larutan garam 2-3% atau larutan pupuk ZA 20-30 g/liter air.Benih yang tenggelam dipergunakan sedangkan benih yang terapung dibuang.Mutu benih padi hibrida diuji dengan uji daya kecambah.
�� Hasil pemilahan benih yang digunakan adalah benih yang tenggelam yaitu benih yang terisi penuh.Benih dibilas dulu agar tidak mengandung larutan pupuk Za ataupun garam.Benih kemudian direndam dalam air selama 24 jam, setelah itu ditiriskan selama 48 jam.


3. Pemupukan berdasarkan kebutuhan tanaman dan status hara tanah
• Pemberian pupuk bervariasi antar lokasi, musim tanam, dan jenis padi yang digunakan. Pengaruh spesifi k lokasi pemupukan memberikan peluang untuk meningkatkan hasil per unit pemberian pupuk, mengurangi kehilangan pupuk, dan meningkatkan effisiensi agronomi dari pupuk.
• Acuan rekomendasi pemupukan N, P dan K tanaman padi sawah dapat didasarkan:
o BWD (bagan warna daun) untuk N dan PUTS (perangkat uji tanah sawah untuk P dan K)
o Uji Petak Omisi (minus 1 unsur untuk N, P dan K)
• Lahan potensial yang sesuai dan layak untuk pelaksanaan pengkajian Petak Omisi (berikut kaji terap penggunaan BWD) adalah lahan irigasi yang mempunyai ketersediaan air minimal 10 bulan, baik berupa irigasi teknis maupun sederhana. Untuk lebih menjamin ketersediaan dan pendistribusian air, lokasi yang diprioritaskan adalah lahan yang berada di dekat saluran sekunder.
• Pengkajian melibatkan > 6 petani di setiap lokasi.
• Kriteria umum dalam pemilihan lokasi sekaligus petani yang terlibat antara lain: (1) mewakili variasi kesuburan tanah dari wilayah yang bersangkutan, (2) mewakili variasi pola tanam, (3) mewakili tingkat kondisi sosial ekonomi dalam hal luas sempitnya kepemilikan lahan, dan tingkat kesejahteraan petani, (4) kemudahan jangkauan untuk kunjungan lapang, dan (5) loyalitas petani berpartisipasi dalam melaksanakan pengkajian.
Apabila variasi keadaan kesuburan tanah tidak ditemukan dalam hamparan pengkajian 100 ha maka dimungkinkan untuk memilih sebagian lokasi pengkajian di luar hamparan tersebut.
• Dalam pengkajian ditetapkan 4 perlakuan di tiap lokasi, yaitu:
1. -NPK – pemupukan N, P, dan K secara kengkap;
2. -N (PK) – tanpa pemupukan N, tapi pupuk P dan K diberikan;
3. -P (NK) – tanpa pemupukan P, tapi pupuk N dan K diberikan;
4. -K (NP) – tanpa pemupukan K, tapi pupuk Ndan P diberikan.
o Peta status hara P dan K skala 1 : 50000
o PuPS (Pemupukan Padi Sawah) Spesifi k Lokasi: Program PuPS (Pemupukan Padi Sawah) versi 1.0.
�� Menggunakan perangkat komputer untuk menentukan takaran pemupukan tanaman padi
�� Terdapat 11 pertanyaan yang perlu dijawab sesuai kondisi saat ini di lapang
�� Keluaran program berupa saran rekomendasi takaran pemupukan tanaman padi.
o Permentan No 40/2007 tentang Rekomendasi Pemupukan

4. Pengendalian OPT (Organisme Pengganggu Tanaman)
• Tahapan pelaksanaan pengendalian OPT berdasarkan pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT).
• Identifi kasi jenis dan penghitungan tingkat populasi hama. Dilakukan oleh petani dan atau Pengamat OPT melalui kegiatan survei dan monitoring hama-penyakit tanaman pada pagi hari.
• Menentukan tingkat kerusakan hama. Tingkat kerusakan dihitung secara ekonomi yaitu besar tingkat kerugian atau tingkat ambang tindakan. Tingkat ambang tindakan identik dengan ambang ekonomi, lebih sering digunakan sebagai dasar penentuan teknik pengendalian hama dan penyakit.
• Taktik dan teknik pengendalian:
�� Mengusahakan tanaman sehat
�� Pengendalian hayati
�� Penggunaan varietas tahan
�� Mekanik
�� Fisik
�� Senyawa semi-kimia (hormon)
�� Pestisida
• Jenis-jenis hama padi utama yaitu tikus sawah, wereng coklat, penggerek batang padi, dan keong mas.
• Jenis-jenis penyakit padi utama yaitu bercak, blas, busuk pelepah, tungro, hawar daun bakteri dan tungro.

1. Pengendalian Tikus


�� Pengendalian dilakukan oleh petani secara bersamasama (kelompok) dan terkoordinir dengan cakupan sasaran pengendalian yang lebih luas (hamparan sawah/desa)
�� Pengendalian dini sebelum tanam dilaksanakan dengan gropyokan, yaitu dengan cara membongkar atau menggali sarang tikus pada habitat utama tikus (tanggul irigasi, pematang, jalan sawah dan pinggiran perkampungan) serta caracara lainnya. Apabila populasi tikus sangat tinggi (>1 sarang per meter panjang habitat), maka dilakukan pengumpanan dengan rodentisida sesuai dosis anjuran.
�� Pemasangan LTBS (Linear Trap Barrier System) yaitu pemasangan pagar plastik dengan bubu perangkap tikus mengelilingi petak pertanaman padi sawah setelah tanam.LTBS menjaga migrasi (perpindahan tikus secara massal) dari daerah sekitarnya.
�� Monitoring dan pengendalian berkelanjutan dari sejak semai hingga panen dengan melakukan sanitasi gulma, fumigasi sarang tikus dengan asapbelerang dan pengendalian setiap sarang tikus pada habitat utamanya serta cara pengendalian lainnya.

2. Pengendalian Penggerek Batang Padi
�� Pengendalian penggerek batang padi dilakukan dengan cara memperhatikan tingkat populasi ngengat penggerek, tingkat kerusakan di lapangan dan stadia tanaman.
�� S e t e l a h terlihat ada penerbangan n g e n g a t , kelompok telur di persemaian harus diambil dan dipelihara. Apabila yang keluar ulat penggerek, maka ulat tersebut jangan dibiarkan masuk ke sawah, tetapi bila yang keluar parasitoid, maka parasitoid tersebut dibiarkan kembali ke sawah.
�� Bila sudah ada tangkapan ngengat pada perangkap lampu atau tingkat serangannya mencapai 2%sundep, maka perlu diaplikasikan insektisidaanjuran, baik dalam bentuk butiran maupun bentuk cairan seperti Fipronil, Rynaxypyr dan Dimehipo.
�� Bila perkembangan populasi penggerek tumpangtindih (overlapping) antar generasi atau antar imigran, maka pegendalian dilakukan pada 4 hari setelah terlihat ada penerbangan ngengat.

3. Pengendalian Wereng Coklat dan Wereng Punggung Putih
�� Hama ini bekembang pesat pada musim hujan dan saat La-Nina, tetapi pada musim kemarau populasinya rendah.Demikian pula dengan wereng punggung putih disinyalir telah menyerang tanaman padi di beberapa tempat.
�� Pengamatan perlu dilakukan pada musim kemarau (MK) dan musim hujan (MH) paling lambat 2 minggu sebelum panen terhadap 20 rumpun arah diagonal.
�� Monitoring dini dan keputusan pengendalian wereng coklat harus menerapkan perhitungan berdasarkan musuh alami, sebagai berikut :
a. Populasi wereng dan musuh alaminya diamati selang 1-2 minggu sekali pada 20 rumpun dari suatu hamparan seragam.
b. Populasi wereng coklat, predator laba-laba, Paederus fuscifes, Ophionea nigrifasciata,
Coccinella dan kepik Cyrtorhinus lividipennis
harus dicatat.
c. Data pengamatan dimasukkan ke dalam rumus berikut:
Ai – (5Bi+2Ci)
Di = ----------------------
20
Keterangan :
A1 : populasi wereng (coklat+punggung putih) pada 20 rumpun pada minggu ke-i
Bi : populasi predator laba-laba + Ophionea nigrifasciata + Paederus + Coccinella pada20 rumpun pada minggu ke-i
Ci : populasi Cyrtorhinus lividipennis pada 20 rumpun
Di : wereng coklat terkoreksi per rumpun Jika nilai Di>4 ekor wereng coklat terkoreksi per rumpun pada padi berumur <40 hst atau nilai Di>7 ekor wereng coklat terkoreksi per rumpun pada padi umur >40 hst, maka perlu aplikasi insektisida yang direkomendasikan, seperti Fipronil, Imidakloprid dan Tiametoksam.
Jika Jika nilai Di<4 ekor wereng coklat terkoreksi per rumpun pada padi berumur <40 hst atau nilai Di<7 ekor wereng coklat terkoreksi per rumpun pada padi umur >40 hst, maka tidak perlu aplikasi insektisida, tetapi pada minggu berikutnya pengamatan dan analisis harus dilakukan seperti di atas untuk menentukan keputusan pengendalian selanjutnya.
Keputusan pengendalian wereng coklat dalam jangka panjang, sebagai berikut :
�� Pada MH sebaiknya ditanam varietas berumur genjah dan tahan wereng coklat, seperti varietas
Ciherang atau INPARI-1.
�� Pola tanam tidak serempak perlu diubah menjadi pola tanam serempak.
�� Pergiliran varietas dengan menanam varietasCiherang, Mekongga, Tukad Unda, Singkil,Konawe, Batang Gadis, Conde, Angke, Wera, Sunggal, Cigeulis, Cibogo, Pepe atau INPARI-1 secara bergiliran, sebab varietas-varietas tersebut adalah turunan dari varietas IR-64 yang memiliki gen Bph1* yang tahan terhadap wereng coklat biotipe 2 dan 3. Namun apabila salah satu varietas tersebut ditanam secara terus-menerus pada satu lokasi sepanjang tahun (contoh varietas Ciherang), maka akan menjadi rentan.

4. Pengendalian Wereng Hijau Penyebar Penyakit Tungro


�� Penyakit tungro ditularkan oleh wereng hijau terutama Nephoteltix virescens Distant. Penyakit
tungro menyebabkan kehilangan hasil pada tanaman padi disebabkan jumlah anakan berkurang dan meningkatnya gabah hampa. Kehilangan hasil akibat penyakit tungro dapat mencapai 80-100%, terutama apabila infeksi terjadi pada tanaman padi umur muda yang ditanam pada MH.
�� Luas serangan pada MK terutama pada periode Juli- September dapat dijadikan petunjuk kemungkinan luas serangan pada MH. Semakin luas serangan pada MK, maka akan semakin luas pula serangan pada MH.
�� Hindari tanaman pada saat fase kritis atau bertepatan dengan populasi wereng hijau tinggi.
�� Pergiliran varietas tahan wereng hijau dapat menekan insiden tungro pada padi sawah, baik yang ditanam serempak maupun tidak serempak sepanjang wereng hijau belum beradaptasi.
�� Dilakukan pembersihan (sanitasi) gulma, seperti eceng gondok, teki, singgang dan bibit dari ceceran gabah sebelum membuat persemaian.
�� Apabila populasi wereng hijau tinggi di persemaian atau melampaui ambang kendali, maka segera diaplikasikan insektisida yang direkomendasikan.

5. Pengendalian Penyakit Hawar Daun Bakteri (HDB)
�� Penyakit hawar daun bakteri (HDB atau Blb=Bacterial leaf blight) disebabkan oleh bakteri
X a n t h o m o n a soryzae pv. Oryzae (Xoo). Di lapangan terdapat 12 patotipepenyakit, namun yang dominan umumnya patotipe III, IV dan VIII.Penyakit ini dapat menimbulkan kerusakan tanaman cukup berat (75%), sehingga hasil yang diperoleh sangat rendah.Bila sel bakteri masuk melalui akar atau batang tanaman padi muda, maka dapat menimbulkan gejala yang disebut dengan “kresek”.
�� Menanam varietas tahan agar dapat menekan perkembangan penyakit HDB, seperti varietas
Angke, Conde dan INPARI-1, sedangkan varietas lainnya ada pula yang tahan, tetapi hanya tahan terhadap patotipe tertentu saja (ada yang tahan 2 atau 1 patotipe saja).
�� Pemupukan secara berimbang, apabila tanaman dipupuk N (urea) terlalu tinggi akan menimbulkan kerusakan berat. Pada tanaman yang rentan pemupukan N dianjurkan sebanyak 76 kg/ha N (165 kg/ha urea).
�� Pengairan hemat (intermitten), timbulnya HDB sering terjadi pada kondisi air tergenang dengan kelembaban tinggi.Air irigasi sebaiknya dikeringkan dengan teknik intermitten.


�� Tanam sistem legowo, memberikan peluang terhadap masuknya sinar matahari dan aliran udara bebas, sehingga menurunkan kelembaban.

6. Pengendalian Penyakit Blas


�� Peyakit blas disebabkan oleh cendawan Pyriculariagrisea.Penyakit ini banyak ditemukan padapertanaman padi gogo, namun pada beberapa tahunini penyakit blas sudah menyebar ke pertanamanpadi sawah. Infeksi pada buku batang tanaman padimenyebabkan bercak hitam dan bila berkembang,batang akan menjadi patah. Di lain pihak bila infeksiterjadi pada malaiakan menyebabkanblas leher yangdapat berakibatgabah hampa( k e h a m p a a nmalai).
�� Perlakuan benih, sebab penularannya biasanya melalui benih.Oleh karena itu sangat dianjurkan perlakuan benih dengan fungisida, seperti pemberian 5-10 g pyroquilon untuk setiap 1 kg benih.
�� Perlakuan benih di lapangan hanya dapat bertahan sampai pertanaman berumur <6 minggu.Oleh karenaitu untuk menekan blas leher perlu diaplikasikan fungisida pada saat pertanaman memasuki fase anakan maksimum dan fase awal berbunga (5% berbunga).Fungisida yang direkomendasikan adalah edifenphos, tetrachlorophthalide, kasugamycin, pyroquilon, benomyl, isoprotiolane, thiophanate methyl dan difenoconazol. 5. Pengaturan populasi tanaman • Pengaturan populasi tanaman dapat dipilih sesuai dengan kebutuhan dan keinginan petani dengan system tanam sebagai berikut: a. Sistem Tegel: 1) Jarak tanam 30 x 30 cm (pop. tanaman 11 rumpum/m2); 2) Jarak tanam 27 x 27 cm (pop. tanaman 14 rumpun/m2); 3) Jarak tanam 25 x 25 cm (pop. tanaman 16 rumpun/m2); 4) Jarak tanam 20 x 20 cm (pop. tanaman 25 rumpun/m2)




b. Sistem Jajar Legowo:


1) Legowo 2:1 (Jarak tanam 25 x 12,5 x 50 cm = pop. tan 21 rumpun/m2);
2) Legowo 2:1 (Jarak tanam 20 x 10 x 40 cm = pop. tan 33 rumpun/m2),
3) Legowo 4:1 (Jarak tanam 25 x 12,5 x 50 cm = pop. tan 26 rumpun/m2);
4) Legowo 4:1 (Jarak tanam 20 x 10 x 40 cm = pop. tan 40 rumpun/m2), dst.

• Jumlah rumpun tanaman yang optimal akanmenghasilkan lebih banyak malai per meter persegi
dan berpeluang besar untuk pencapaian hasil yang lebih tinggi.
• Pertumbuhan tanaman yang sehat dan seragam mempercepat penutupan permukaan tanah, sehingga dapat menekan atau memperlambat pertumbuhan gulma dan meningkatkan ketahanan tanaman terhadap Legowo 2:1 (25x12,5x50 cm) Legowo 4:1 (25 cm x 12,5 cm x 50 cm) hama dan penyakit.

6. Pupuk Organik


• Pupuk organik adalah pupuk yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri atas bahan organik yang berasal dari sisa tanaman, kotoran hewan (pupuk kandang), pupuk hijau dan kompos (humus) berbentuk padat atau cair yang telah mengalami dekomposisi. Persyaratan teknis minimal pupuk organik mengacu kepada Permentan No 02/2006 (kecuali diproduksi untuk keperluan sendiri).
• Pemberian pupuk organik dalam bentuk dan jumlah yang sesuai, sangat penting untuk keberlanjutanintensifi kasi lahan sawah. Hal ini sangat berguna untukdaerah-daerah yang ketersediaan pupuk kimia terbatas dan mahal.
• Sumber bahan organik yang utama dan banyak tersedia pada pertanaman padi adalah jerami. Berat jerami sebanding dengan berat gabahnya. Untuk mempercepat proses pengomposan jerami dapat dilakukan dengan penambahan dekomposer

B. Komponen Teknologi Pilihan PTT
1. Pengolahan tanah sesuai musim dan pola tanam
2. Penanaman bibit muda (<21 hari) 3. Tanam 1-3 batang per rumpun 4. Pengairan secara efektif dan efi sien 5. Penyiangan menggunakan landak/gasrok 6. Panen tepat waktu 7. Perontokan gabah sesegera mungkin ad.1 Pengolahan tanah sesuai musim dan pola tanam �� Pengolahan tanah hingga berlumpur dan rata dimaksudkan untuk menyediakan media pertumbuhan yang baik danseragam bagi tanaman padi sekaligus upaya mengendalikan gulma. �� Pada kondisi tertentu seperti mengejar waktu tanam, kekurangan tenaga kerja, keterbatasan traktor dan/atau ternak, maka pengolahan tanah minimum atau tanpa olah tanah dapat pula diterapkan. �� Pengolahan tanah dapat dilakukan dengan traktor atau ternak, menggunakan bajak singkal dengan kedalaman olah >20 cm. Tunggul jerami, gulma, dan bahan organic yang telah dikomposkan dibenamkan ke dalam tanah bersamaan dengan pengolahan tanah pertama.
�� Pembajakan biasanya dilakukan dua kali lalu diikuti penggaruan/penggelebegan untuk perataan lahan dan pelumpuran.
�� Pengolahan tanah sempurna (bajak, garu, dan perataan) diperlukan untuk tanaman padi yang dibudidayakan pada musim tanam pertama.ad.2 Penanaman bibit muda (< 21 hari) �� Keuntungan tanam pindah menggunakan bibit muda (< 21 hari) adalah lebih tahan menghadapi stres akibat pencabutan bibit di pesemaian, pengangkutan dan penanaman kembali, dibandingkan dengan bibit yang lebih tua. �� Bibit muda mempunyai bahan makanan cadangan untuk pertumbuhan bibit pada endosperm benih dan kadar nitrogen di daun lebih tinggi. ad.3. Tanam 1 – 3 batang per rumpun �� Jumlah bibit yang ditanam tidak lebih dari 3 batang. �� Penanaman bibit dengan jumlah per lubang lebih banyak akan meningkatkan persaingan antar bibit dalam rumpun yang sama. �� Rumpun yang hilang disebabkan tanaman mati atau rusak karena hama segera disulam paling lambat 14 hari setelah tanam. ad.4. Pengairan secara efektif dan efisien �� Pengairan dengan teknik berselang, gilir-giring; gilirglontor, macak-macak dan basah-kering. Dengan caraini pemakaian air dapat dihemat sampai 30% tanpa menurunkan hasil panen. �� Teknik pengairan berselang: air di areal pertanaman diaturpada kondisi tergenang dan kering secara bergantian dalam periode tertentu. �� Teknik gilir-giring, air didistribusikan 4-5 hari sekali kalau debit air sungai sekitar 40%. �� Teknik gilir-glontor, air didistribusikan 2-3 hari sekali kalau debit sungai 40-60%. �� Salah satu metode pengairan berselang yang dapat diukur secara praktis adalah pengairan basah-kering (pengaturan air di lahan pada kondisi tergenang dan kering secara bergantian). Gunakan alat sederhana dari paralon atau bahan lain bisa meyakinkan petani untuk kemudian terdorong menguji sendiri �� Air masih ada di sawah meski tidak terlihat �� Pada saat pembungaan, pertahankan ketinggian air sekitar 3-5 cm. �� Air sawah ketika muka air berada pada kedalaman 15-20 cm �� Metode ini dipraktekkan mulai tanam sampai satu minggu sebelum tanaman berbunga. Sawah baru diairi apabila kedalaman muka air tanah mencapai + 15 cm, diukur dari permukaan tanah. Hal ini dapat diketahui dengan bantuan alat sederhana dari paralon belubang yang dibenamkan ke dalam tanah. Penggunan Paralon Berlubang sebagai Indikator




• Alat sederhana dari paralon atau bahan lain bias meyakinkan petani untuk kemudian terdorong menguji sendiri.
• PBkB berlaku umum, tidak dibatasi oleh jenis tanah, hidrologi, varietas dll.
• Pemupukan dilakukan seperti biasa.
• Bila banyak gulma, usahakan sawah tetap digenangi pada 2 minggu pertama. ad.5. Penyiangan menggunakan landak/gasrok

�� Penyiangan gulma perlu mendapat perhatian menjelang 21 hari setelah tanam.
Manfaatnya adalah:
• ramah lingkungan
• hemat tenaga kerja
• meningkatkan jumlah udara dalam tanah, dan
• merangsang pertumbuhan akar lebih baik. ad.6. Panen Tepat Waktu

�� Panen harus memperhatikan umur tanaman padi dan carapemanenan serta tinggi pemotongan tanaman (sebaiknya ketinggian pemotongan sekitar 20 cm dari permukaan tanah dengan maksud jerami yang diangkut dari lahan tidak terlalu banyak sehingga dapat dibuat kompos). Alat panen
dapat menggunakan sabit bergerigi atau mower agar tidak banyak kerontokan (kehilangan hasil) dibandingkan dengan penggunaan sabit biasa.
�� Waktu panen yang tepat dapat d i d a s a r k a n pada beberapa p e d o m a n ,diantaranya (1)
Umur varietas yang tercantum di dalam deskripsi Landak Gasrok Panen tepat waktu (90-95% gabah telah berisi dan menguning)varietas, (2) Kadar air 21-26%, (3) Pada saat 30-35 hari setelah berbunga, dan (4) Kenampakan malai 90-95% gabah telah berwarna kuning.
�� Panen terlalu awal menyebabkan gabah hampa, gabahhijau, dan butir kapur lebih banyak.
�� Panen terlalu lambat menimbulkan kehilangan hasil karena banyak gabah yang rontok pada saat di lapangan. Selain itu dalam proses penggilingan jumlah gabah yang patah akan meningkat.
Sistem pemanenan padi ada 3 macam, yaitu (1) Individual, (2) Ceblokan dan (3) Kelompok.

1. Individual atau keroyokan adalah sistem pemanenan padi dengan jumlah pemanen tidak terbatas, siapa saja boleh ikut panen tanpa ikatan satu dengan lainnya.
2. Ceblokan atau Sromo adalah sistem pemanenan padi dengan jumlah pemanen terbatas, orang lain tidak boleh ikut panen tanpa seijin penceblok yang sebelumnya ikut merawat tanaman (penyiangan) tanpa dibayar.
3. Kelompok adalah sistem pemanenan padi dengan jumlah tenaga pemanen terbatas dengan sistem kerja beregu (kelompok) dan perontokannya menggunakan mesin perontok.

Pada tingkat petani kehilangan hasil panen pada proses panen masih relatif tinggi yaitu + 9%. Kehilangan hasil panen pada saat panen dapat ditekan melalui penerapan sistem pemanenan berkelompok (4,39-6,58%). ad.7. Perontokan Gabah Sesegera Mungkin
�� Perontokan adalah melepaskan butir gabah dari malainya.Prinsipnya melepaskan butir gabah dengan caramemberikan tekanan pada malai.
�� Perontokan gabah sesegera mungkin, paling lama 1-2 hari setelah panen.
�� Cara perontokan :
(1) Diiles/diinjak-injak, (2) Dipukul,
(3) Dibanting,
(4) Disisir,
(5) Kombinasi disisir dan dibanting, dan
(6) Penggunaan alat/mesin perontok DB-100.
- Kapasitas tinggi 523 - 1.125 kg/jam
- Mutu gabah baik, lebih bersih
- Tidak merusak gabah sebagai benih

�� Apabila panen dilakukan dengan sistem kelompok (regu panen), maka regu panen harus diatur
sedemikian rupa agar pada saat memotong rumpun padi adalah bagian bawah untuk menekan kehilangan hasil. Panen sistem “keroyokan” atau “ceblokan” bila memungkinkan dihindari, sebab banyak mengalami kehilangan hasil.
�� Penggunaan alat perontok ‘’gebot” dan pedal thresher power thresher harus dilengkapi dengan tirai penutup dan alas yang cukup luas untuk menghindari terlemparnya gabah keluar alas perontokan.
�� Untuk mendapatkan mutu gabah yang lebih baik dan harga yang lebih tinggi, gabah secepatnya dijemur.
�� Kehilangan hasil pada saat penjemuran dapat dihindari dengan penggunaan lantai jemur berupa lamporan semen,“giribig” (anyaman bambu) atau plastik terpal. Perontokkan dengan pedal/ power thresher
�� Kematangan gabah dan jenis alat penggilingan sangat menentukan rendemen, tingkat kehilangan hasil dan mutu beras yang dihasilkan. Umur panen belum optimum dan tidak seragamakan menurunkan mutu beras dan rendemennya.
�� Perawatan hasil, baik berupa gabah maupun beras dengan wadah karung umumnya sudah dilakukan oleh petani dengan baik agar terhindar dari serangan hama gudang.

Ubinan


Ubinan merupakan cara pendugaan hasil panen yang dilakukan dengan menimbang hasil tanaman contoh pada plot panen. Tanaman contoh diambil pada pertengahan plot, tidak pada dua
baris paling pinggir dekat pematang. Ukuran ubinan ± 5 m2 di tengah petakan.Jumlah rumpun tanam dalam ubinan tergantung pada jarak tanam yang digunakan, namun demikian jumlah rumpun tanaman dalam ubinan minimal 120 rumpun per petak.

Posisi batas ubinan ditentukan pada pertengahan jarak antar tanaman.
Gabah dirontok dari malainya dan dibersihkan dari kotoran, kemudian ditimbang dan diukur kadar airnya, Gabah Kering Panen (GKP). Konversi hasil ubinan ke dalam Gabah Kering Giling (GKG) dihitung dengan menggunakan rumus berikut:

Hasil GKG 14% = ((100 - Ka) / 86) x GKP

Keterangan:
Ka : Kadar air (%)
GKP : Gabah Kering Panen
GKG : Gabah Kering Giling






Cepi Kersani
THL-TBPP
Wilayah Desa Cijambu

0 komentar:

Poskan Komentar